Welcome to Themescode.com - Not Addict Anymore!

 

 

Journal: 31 April, Selamat Ulang Tahun Kekasihku. Aku Mencintaimu

Dinda namanya, awalnya aku merasa hubungan kami hanya hubungan pasangan kekasih yang biasa saja dan akan berakhir dengan bahagia selamanya.

Dia selalu mengunjungiku seminggu dua kali kalau sedang tidak sibuk karena memang kami tinggal berlainan kota yang jaraknya tidak terlalu jauh, aku tinggal di Jogja dan Dinda tinggal di Klaten tapi ketika dia sibuk aku hanya berdiam diri dirumah mengerjakan pekerjaan ku di depan computer yang terasa semakin menggunung tanpa terpikirkan aku ingin mengunjunginya di Klaten. Tapi disaat aku mulai frustasi dengan pekerjaan ku Dinda selalu ada untuk datang mengunjungiku dan mengecup manis kening ku kemudian memberiku pelukan hangat yang menenangkan pikiranku untuk sesaat dan memang itu sangat berfungsi untuk ku hanya sekedar tenang dan mulai mengobrol ringan dengannya, tapi tanpa kusadari aku telah meninggalkan pekerjaan ku yang makin bundet untuk menikmati waktuku bersamanya. Seperti hipnotis karena aku sangat jarang sekali meninggalkan pekerjaanku ketika aku sudah mulai asik duduk di depan computer dan internet untuk bekerja. Tapi dia begitu menakjubkan di mataku, terkadang tanpa kusadari aku sudah melupakan pekerjaanku untuk sesaat dan pergi ke pantai untuk menikmati waktuku bersamanya.

Pernah satu kali aku bertanya padanya mengapa ia rela menghabiskan waktunya dan meninggalkan kewajibanya sebagai seorang atlet untuk sesaat hanya untuk menikmati waktu bersamaku sedangkan aku sering kali tak memperdulikannya sama sekali bahkan aku sering lebih mementingkan pekerjaanku daripada memperhatikan apa yang sedang ia lakukan. Dia hanya menjawab lirih sambil tersenyum kecil, “Aku mencintaimu lebih dari apapun juga, aku rela memberikan semuanya untukmu, untuk membuatmu tersenyum, dan untuk membuatmu bahagia meski kamu tak pernah membalasnya untuk ku. Aku sangat mencintaimu, meski suatu saat kau tak mencintaiku lagi”. Saat itu juga air mataku menetes dan aku mulai memeluknya erat, sangat erat dan aku mengatakan bahwa aku mencintainya.

Mulai dari saat itu aku selalu meluangkan waktuku untuk bisa selalu bersamanya dan mewarnai setiap hari kehidupan kami dengan canda tawa yang riang, dan membuatnya bisa tersenyum bahagia, ku akui aku sangat mencintainya. hingga waktu berlalu selama 6 tahun kami berpacaran. Hubungan kami makin hangat dan jarang sekali ada masalah karna memang Dinda bukan type orang pemarah, dia selalu takut bila dia membuatku marah, pernah suatu kali aku marah dan Dinda hanya bisa diam tak berani berkata² apaun sampai akhirnya aku mengajaknya bicara dan bercanda seperti biasanya, aku tak pernah tahan ketika aku melihat wajah manisnya yang selalu bisa membuatku merasa ‘adem’ menenangkan dan seolah tidak akan ada masalah lagi di pikiranku.

1 Tahun kemudian hubungan kami dengan keluarga makin dekat maka kami memutuskan untuk bertunangan dan akan segera menikah karna memang Dinda sudah lulus kuliah dan aku sudah memiliki pekerjaan tetap di salah satu perusahaan bank negara meskipun dengan gaji yang tidak seberapa tapi kupikir akan cukup untuk kehidupan kami berdua asalkan selalu bersyukur. Setelah bertunangan pada akhir tahun 2009 sudah terpikirkan olehku untuk menikah karna sudah kusiapkan juga rumah mungil untuk tinggal kami berdua nantinya supaya bisa membangun keluarga yang bahagia dengan anak² kami suatu saat nanti. Beberapa kali keluargaku bertemu dengan keluarga Dinda untuk berunding tentang hari baik dan akhirnya kami pun sepakat untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai.

Tapi Tuhan berkata lain. Suatu hari ketika aku sedang bertugas di luar kota aku mendapat kabar bahwa tunanganku masuk rumah sakit karena sakit, tanpa pikir panjang aku mengemasi semua barang² ku di kantor dan langsung pulang ke klaten dan menuju rumah sakit. Di sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa agar semua baik² saja dan terus memacu kendaraanku, aku merasa kalut dan merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Memang kami memiliki semacam hubungan batin dan kami selalu bisa saling merasakan bila salah seorang dari kami sedang mengalami kesulitan atau sakit. Tapi berbeda dengan yang satu ini, aku tak pernah merasakan ketakutan sebesar ini, aku sangat takut seolah² akan ada sesuatu yang besar menerpaku, sebuah perasaan kengerian yang luar biasa dalam makin membuatku merasa tidak tenang dan jantungku berdebar makin kencang. Beberapa jam aku lalui untuk menempuh jarak antara kota kudus sampai ke klaten dan setelah memarkir kendaraan ku aku langsung berlari menuju ruangan dimana Dinda dirawat, aku lemas dan tak mampu berkata² saat melihatnya terkulai lemas di kasur berbalut sprei putih khas rumah sakit dengan berbagai alat pengukur detak jantung dan oksigen karna yang aku tau saat orang dirawat hingga demikian pasti sakit parah.

Setelah aku keluar untuk berbincang dengan orang tuanya dan dokter yang kebetulan akan memeriksa keadaan Dinda aku seolah² tersambar petir, membuat tubuh ku makin lemas dan mau pingsan saat dokter menjelaskan Dinda terserang kanker otak yang ternyata telah lama ia sembunyikan dariku. Orang uanya juga menjelaskan bahwa memang Dinda sendiri yang memutuskan untuk tidak memberitahuku dan menyuruh semua orang untuk tidak pernah membongkar rahasia ini di depan ku. Memang penyakit ini sudah cukup lama di deritanya, tapi selama ini memang Dinda sering sekali mengeluh bahwa ia sakit kepala. Tak kusangka bahwa sakit kepalanya akan separah ini.

Hari demi hari keadaanya makin lemah, makin menurun dan memburuk, aku selalu menunggunya dirumah sakit tanpa mempedulikan pekerjaanku lagi, aku tak pernah masuk kerja karena bagaimanapun juga dia prioritasku yang paling penting. Sampai akhirnya dokter mengatakan sudah tidak sanggup lagi untuk melakukan operasi karena minimnya peralatan yang ada dan tenaga medis yang kurang memadai. Aku memutuskan untuk memindahkannya ke rumah sakit yang mampu mengobatinya karna aku ingin melihatnya tersenyum lagi sama seperti di hari pertama kali kami bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Rumah sakit sudah memberikan rujukan tapi baru keesokan harinya bisa dipindahkan karena memang kondisinya masih sangat buruk ketika itu. Kupikir aku bisa pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan mandi, ketika aku mau berpamitan Dinda terbangun dan menatapku sambil menggenggam tanganku dia berkata dengan suara lirih dan kesakitan yang amat sangat, “Jangan pernah tinggalkan aku sedetikpun, karna aku sangat mencintaimu”. Tak kusangka itu adalah kata terakhir yang akan terucap dari bibirnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Aku menangis dan terus menggenggam tangan nya. 31 April saat dihari aku kehilangan Dinda juga saat hari ulang tahun nya yang seharusnya kami bisa tersenyum untuk merayakan nya.

Selamat Ulang Tahun kekasihku, aku selalu mencintaimu.

- Advenda – Jogjakarta Monday, 1 November 2010

Share This Post!

RSS Tweet this! StumbleUpon Digg This! Bookmark on Delicious Reddit Share on Facebook

Leave a Reply